LKPD Kelas 11 TP 6.5

  • Thread starter Thread starter Lalu
  • Start date Start date
  • Views Views: 308
  • Balasan Balasan: 9

Lalu

Administrator
Anggota Staf
Daftar
26 Apr 2020
Poin
1,033
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)

Topik:
Kelainan dan Gangguan pada Sistem Gerak Manusia
Tujuan Pembelajaran: Menganalisis kelainan atau gangguan pada sistem gerak melalui penafsiran informasi atau data.
Petunjuk Pengerjaan:
  1. Bacalah setiap studi kasus dengan cermat.
  2. Analisis data atau gejala yang disajikan (keluhan pasien, hasil rontgen, atau data laboratorium).
  3. Jawablah pertanyaan analisis yang menyertai setiap kasus dengan tepat.

Bagian 1: Studi Kasus​

Kasus 1: Nyeri pada Orang Tua
Seorang wanita berusia 65 tahun datang ke dokter dengan keluhan nyeri punggung yang terus-menerus dan postur tubuh yang semakin membungkuk (kifosis). Ia mengaku tinggi badannya berkurang sekitar 2 cm dalam lima tahun terakhir. Pasien memiliki riwayat jarang mengonsumsi susu dan kurang aktivitas fisik di masa mudanya. Hasil pemindaian tulang (bone scan) menunjukkan penurunan massa tulang yang signifikan dibandingkan rata-rata orang seusianya.

Kasus 2: Atlet yang Cedera
Seorang pemain sepak bola tiba-tiba terjatuh saat pertandingan setelah kakinya terbentur keras oleh pemain lawan. Ia merasakan nyeri hebat di bagian tulang kering (tibia) dan tidak bisa berdiri. Pada pemeriksaan fisik, terlihat pembengkakan (edema) dan perubahan bentuk (deformitas) pada tungkai bawah. Hasil foto rontgen menunjukkan adanya garis patahan yang memisahkan tulang menjadi dua bagian namun tidak menembus kulit.

Kasus 3: Kaki yang Membengkok
Seorang anak laki-laki berusia 4 tahun dibawa ke posyandu. Ibunya khawatir karena kaki anaknya terlihat melengkung menyerupai huruf O saat berdiri atau berjalan. Anak tersebut diketahui jarang bermain di luar rumah (kurang terpapar sinar matahari) dan memiliki riwayat alergi susu sapi sehingga asupan kalsiumnya rendah.

Kasus 4: Sendi yang Membengkak
Seorang pria berusia 50 tahun mengeluh nyeri hebat, kemerahan, dan bengkak pada persendian jempol kakinya, terutama di pagi hari. Nyeri ini sering kambuh setelah ia mengonsumsi makanan seperti jeroan dan kacang-kacangan. Hasil tes darah menunjukkan kadar asam urat pasien mencapai 9,0 mg/dL (Normal laki-laki: 3,4 – 7,0 mg/dL).

Kasus 5: Kekakuan Otot
Seorang pekerja bangunan tidak sengaja menginjak paku berkarat di lokasi konstruksi seminggu yang lalu. Lukanya kecil dan sudah kering, namun sekarang ia merasakan rahangnya kaku dan sulit dibuka. Ia juga mengalami kejang otot yang menyakitkan di punggung dan leher. Dokter segera memberikan penanganan darurat karena mencurigai adanya infeksi bakteri Clostridium tetani.


2: Analisis Data dan Informasi​

Berdasarkan kasus-kasus di atas, lengkapi tabel analisis berikut ini:
No. KasusIdentifikasi Gangguan (Diagnosis)Data/Informasi Kunci yang Mendukung Analisis AndaPenyebab Utama & Mekanisme Singkat Terjadinya
Kasus 1(Contoh: Osteoporosis)Usia 65 th, postur membungkuk, tinggi berkurang, penurunan massa tulang.Penurunan hormon (menopause) dan kurang kalsium menyebabkan resorpsi tulang lebih cepat dari pembentukannya.
Kasus 2.........
Kasus 3.........
Kasus 4.........
Kasus 5.........

Bagian 3: Pertanyaan Pemecahan Masalah​

  1. Analisis Pencegahan: Berdasarkan Kasus 1 dan Kasus 3, jelaskan hubungan antara gaya hidup (pola makan dan aktivitas) dengan kesehatan tulang!
  2. Analisis Penanganan: Pada Kasus 2, mengapa jenis patah tulang tersebut dikategorikan sebagai fraktur tertutup? Apa pertolongan pertama yang tidak boleh dilakukan pada kondisi tersebut?
  3. Sintesis: Bandingkan penyebab gangguan pada Kasus 4 dan Kasus 5. Manakah yang disebabkan oleh gangguan metabolisme dan manakah yang disebabkan oleh infeksi? Jelaskan perbedaan dampaknya pada sistem gerak.
 
1. Analisis Pencegahan: Gaya hidup yang seimbang (pola makan kaya kalsium dan vitamin D, aktivitas fisik teratur) dapat membantu menjaga kesehatan tulang dan mencegah osteoporosis dan rickets.
2. Analisis Penanganan: Fraktur tertutup karena tulang tidak menembus kulit. Pertolongan pertama yang tidak boleh dilakukan adalah mencoba mengembalikan tulang ke posisi semula atau membersihkan luka dengan cara yang tidak steril.
3. Sintesis: Kasus 4 (Gout Arthritis) disebabkan oleh gangguan metabolisme, sedangkan Kasus 5 (Tetanus) disebabkan oleh infeksi. Gangguan metabolisme dapat diatasi dengan perubahan pola makan dan pengobatan, sedangkan infeksi memerlukan antibiotik dan penanganan darurat.
 
Bagian 2: Tabel Analisis (Versi 3)
Kasus 2
Diagnosis: Patah tulang tertutup pada tibia
Data kunci: Benturan keras saat olahraga, nyeri ekstrem, bengkak, bentuk kaki tidak normal, hasil rontgen menunjukkan tulang terpisah tanpa luka luar.
Penyebab & mekanisme: Tekanan mekanik yang besar menyebabkan struktur tulang gagal menahan beban. Karena kulit tidak robek, patah tulang tergolong fraktur tertutup.
Kasus 3
Diagnosis: Rakhitis akibat kekurangan vitamin D
Data kunci: Tulang kaki melengkung, kurang paparan matahari, asupan kalsium rendah.
Penyebab & mekanisme: Gangguan mineralisasi tulang karena kekurangan vitamin D membuat tulang lunak sehingga mudah berubah bentuk saat pertumbuhan.
Kasus 4
Diagnosis: Gout (radang sendi akibat asam urat)
Data kunci: Bengkak dan nyeri pada jempol kaki, kadar asam urat tinggi, dipicu makanan tertentu.
Penyebab & mekanisme: Asam urat berlebih membentuk kristal tajam di sendi yang memicu reaksi peradangan.
Kasus 5
Diagnosis: Tetanus
Data kunci: Luka tusukan, rahang sulit dibuka, kejang otot menyakitkan.
Penyebab & mekanisme: Racun bakteri mengganggu sinyal saraf sehingga otot berkontraksi terus-menerus.

Bagian 3: Jawaban Alternatif
1. Analisis Pencegahan
Tulang memerlukan keseimbangan antara nutrisi dan aktivitas. Kalsium dan vitamin D berperan dalam pembentukan struktur tulang, sementara aktivitas fisik memperkuat jaringan tulang melalui beban mekanis. Tanpa kedua faktor ini, tulang berkembang lemah. Dampaknya terlihat sebagai kelainan bentuk pada anak dan pengeroposan pada usia lanjut.
2. Analisis Penanganan
Fraktur dikatakan tertutup karena patahan tidak disertai luka terbuka pada kulit. Meski tidak tampak dari luar, kerusakan internal tetap serius.
Yang tidak boleh dilakukan:
Mengubah posisi tulang secara paksa
Menekan atau memijat area cedera
Membiarkan korban berjalan sendiri
Kesalahan penanganan dapat memperburuk patah tulang.
3. Sintesis
Kasus 4 merupakan gangguan metabolisme, yaitu ketidakseimbangan zat kimia tubuh yang merusak sendi.
Kasus 5 merupakan infeksi bakteri yang memengaruhi sistem saraf dan otot.
Perbedaannya terletak pada sumber gangguan: metabolisme vs infeksi. Dampaknya, gout bersifat lokal pada sendi, sedangkan tetanus mengganggu kontrol gerak otot secara luas.
 
Bagian 2: Tabel Analisis (Versi Alternatif)
Kasus 2
Diagnosis: Fraktur tertutup tulang tibia
Data kunci: Cedera akibat benturan, nyeri hebat, pembengkakan, perubahan bentuk kaki, hasil rontgen menunjukkan patah tanpa luka terbuka.
Penyebab & mekanisme: Trauma fisik menyebabkan struktur tulang gagal menahan tekanan. Tulang terputus tetapi kulit tidak robek sehingga diklasifikasikan sebagai fraktur tertutup.
Kasus 3
Diagnosis: Rakhitis pada anak
Data kunci: Tulang kaki melengkung, jarang kena matahari, kekurangan kalsium.
Penyebab & mekanisme: Kekurangan vitamin D menurunkan penyerapan kalsium sehingga proses pengerasan tulang terganggu. Tulang menjadi lunak dan berubah bentuk saat menopang tubuh.
Kasus 4
Diagnosis: Arthritis gout (asam urat)
Data kunci: Bengkak pada sendi jempol, nyeri berulang, kadar asam urat tinggi, dipicu makanan tinggi purin.
Penyebab & mekanisme: Penumpukan kristal asam urat di cairan sendi memicu reaksi peradangan yang menyebabkan nyeri dan pembengkakan.
Kasus 5
Diagnosis: Tetanus
Data kunci: Luka tusuk paku, rahang kaku, kejang otot.
Penyebab & mekanisme: Infeksi bakteri menghasilkan racun yang mengganggu pengaturan saraf terhadap otot, menyebabkan kontraksi tidak terkendali.

Bagian 3: Jawaban Alternatif
1. Analisis Pencegahan
Kesehatan tulang sangat dipengaruhi kebiasaan hidup sejak dini. Tulang membutuhkan mineral dan rangsangan gerak untuk berkembang optimal. Pola makan rendah kalsium dan kurang aktivitas menyebabkan tulang kehilangan kepadatan. Pada anak, hal ini memicu kelainan bentuk tulang, sedangkan pada lansia mempercepat pengeroposan. Jadi, nutrisi dan aktivitas adalah faktor proteksi utama tulang.
2. Analisis Penanganan
Fraktur disebut tertutup karena tulang patah berada di dalam jaringan tanpa menembus kulit. Kondisi ini tetap serius karena jaringan dalam bisa rusak.
Yang tidak boleh dilakukan:
Menarik atau memutar kaki
Memijat bagian patah
Memaksa korban berdiri atau berjalan
Kesalahan pertolongan bisa memperparah cedera dan menyebabkan komplikasi.
3. Sintesis
Kasus 4 berasal dari gangguan metabolisme yang menyebabkan zat sisa tubuh menumpuk di sendi. Dampaknya fokus pada peradangan sendi.
Kasus 5 berasal dari infeksi bakteri yang memproduksi racun. Dampaknya lebih luas karena menyerang sistem saraf dan menyebabkan kekakuan otot.
Perbedaannya: satu gangguan kimia tubuh, satu gangguan biologis akibat mikroorganisme — efeknya pun berbeda pada sistem gerak.
 
Bagian 2: Tabel Analisis
•Kasus 2
Diagnosis: Fraktur tertutup tibia
Data kunci: Trauma benturan keras, nyeri hebat, edema, deformitas, garis patahan pada rontgen tanpa luka terbuka.
Penyebab & mekanisme: Gaya benturan melebihi elastisitas tulang sehingga tulang patah. Kulit tetap utuh → fraktur tertutup. Kerusakan jaringan terjadi secara internal, berisiko perdarahan dan pembengkakan.
•Kasus 3
Diagnosis: Rakhitis
Data kunci: Kaki berbentuk O, kurang paparan matahari, asupan kalsium rendah.
Penyebab & mekanisme: Defisiensi vitamin D menghambat penyerapan kalsium-fosfat. Akibatnya mineralisasi tulang terganggu, tulang anak menjadi lunak dan melengkung saat menopang berat badan.
•Kasus 4
Diagnosis: Gout arthritis (asam urat)
Data kunci: Nyeri sendi jempol, kemerahan, bengkak, kadar asam urat tinggi, kambuh setelah makanan tinggi purin.
Penyebab & mekanisme: Gangguan metabolisme purin menyebabkan kristal monosodium urat mengendap di sendi, memicu reaksi inflamasi akut.
•Kasus 5
Diagnosis: Tetanus
Data kunci: Luka paku berkarat, rahang kaku (trismus), kejang otot, riwayat infeksi.
Penyebab & mekanisme: Racun tetanospasmin dari Clostridium tetani menghambat neurotransmiter penghambat di saraf, menyebabkan kontraksi otot terus-menerus.

Bagian 3: Jawaban Analisis
1. Analisis Pencegahan
• Kasus 1 dan 3 menunjukkan bahwa kesehatan tulang tidak hanya ditentukan usia, tetapi akumulasi gaya hidup sejak muda. Kekurangan kalsium dan vitamin D mengurangi kepadatan tulang, sementara kurang aktivitas fisik menurunkan rangsangan mekanik yang dibutuhkan tulang untuk mempertahankan massa. Tulang adalah jaringan hidup yang beradaptasi terhadap beban; tanpa nutrisi dan aktivitas, proses resorpsi tulang lebih dominan daripada pembentukan. Akibatnya muncul osteoporosis pada lansia dan rakhitis pada anak.

2. Analisis Penanganan
Fraktur pada • Kasus 2 dikategorikan fraktur tertutup karena integritas kulit tidak rusak meskipun tulang patah. Ini penting secara klinis karena risiko infeksi lebih rendah dibanding fraktur terbuka, tetapi perdarahan internal tetap berbahaya.
Pertolongan yang tidak boleh dilakukan:
Meluruskan tulang secara paksa → dapat merusak pembuluh darah/saraf
Memijat area cedera → memperparah perdarahan jaringan
Menggerakkan anggota tubuh → memperbesar kerusakan tulang
Prinsip utama adalah imobilisasi untuk mencegah cedera lanjutan.

3. Sintesis
• Kasus 4 adalah gangguan metabolisme: tubuh gagal mengatur kadar asam urat sehingga kristal menumpuk di sendi. Dampaknya bersifat inflamasi lokal yang membatasi gerak sendi.
• Kasus 5 adalah gangguan akibat infeksi: bakteri menghasilkan toksin yang menyerang sistem saraf pusat. Dampaknya sistemik, menyebabkan kekakuan otot menyeluruh dan gangguan kontrol gerak.
Perbedaan mendasar:
Gangguan metabolisme → kerusakan kimiawi pada sendi
Infeksi → gangguan neuro-otot akibat toksin
Satu menyerang struktur sendi, yang lain mengacaukan mekanisme kontrol gerak.
 
1Analisis Pencegahan: Berdasarkan Kasus 1 dan Kasus 3, jelaskan hubungan antara gaya hidup (pola makan dan aktivitas) dengan kesehatan tulang!
2Analisis Penanganan: Pada Kasus 2, mengapa jenis patah tulang tersebut dikategorikan sebagai fraktur tertutup? Apa pertolongan pertama yang tidak boleh dilakukan pada kondisi tersebut?
3Sintesis: Bandingkan penyebab gangguan pada Kasus 4 dan Kasus 5. Manakah yang disebabkan oleh gangguan metabolisme dan manakah yang disebabkan oleh infeksi? Jelaskan perbedaan dampaknya pada sistem gerak.
 
Kasus 2

Diagnosis: Fraktur tertutup pada tibia
Data kunci: Benturan keras saat olahraga, nyeri hebat, bengkak, deformitas, rontgen menunjukkan patah tanpa luka kulit.
Penyebab & mekanisme: Tekanan mekanik besar mematahkan tulang, tetapi kulit tidak robek sehingga termasuk fraktur tertutup.



Kasus 3

Diagnosis: Rakhitis akibat kekurangan vitamin D
Data kunci: Kaki melengkung, kurang paparan sinar matahari, asupan kalsium rendah.
Penyebab & mekanisme: Kekurangan vitamin D mengganggu mineralisasi tulang sehingga tulang lunak dan mudah berubah bentuk.



Kasus 4

Diagnosis: Gout (radang sendi asam urat)
Data kunci: Nyeri dan bengkak pada jempol kaki, kadar asam urat tinggi, dipicu makanan tertentu.
Penyebab & mekanisme: Penumpukan kristal asam urat di sendi memicu peradangan.



Kasus 5

Diagnosis: Tetanus
Data kunci: Luka tusukan, rahang kaku, kejang otot.
Penyebab & mekanisme: Racun bakteri mengganggu sinyal saraf sehingga otot berkontraksi terus-menerus.



Bagian 3: Jawaban Alternatif

1. Analisis Pencegahan

Kesehatan tulang memerlukan nutrisi (kalsium dan vitamin D) serta aktivitas fisik. Kekurangannya menyebabkan tulang lemah, menimbulkan kelainan pada anak dan pengeroposan pada lansia.

2. Analisis Penanganan

Disebut fraktur tertutup karena tidak ada luka terbuka pada kulit.
Tidak boleh dilakukan: meluruskan paksa, memijat area cedera, atau membiarkan korban berjalan.

3. Sintesis

Kasus 4 adalah gangguan metabolisme, sedangkan Kasus 5 adalah infeksi.
Gout menyerang sendi secara lokal, sementara tetanus mengganggu kontrol gerak otot secara luas.
 
Bagian 2: Tabel Analisis
•Kasus 2
Diagnosis: Fraktur tertutup tibia
Data kunci: Trauma benturan keras, nyeri hebat, edema, deformitas, garis patahan pada rontgen tanpa luka terbuka.
Penyebab & mekanisme: Gaya benturan melebihi elastisitas tulang sehingga tulang patah. Kulit tetap utuh → fraktur tertutup. Kerusakan jaringan terjadi secara internal, berisiko perdarahan dan pembengkakan.
•Kasus 3
Diagnosis: Rakhitis
Data kunci: Kaki berbentuk O, kurang paparan matahari, asupan kalsium rendah.
Penyebab & mekanisme: Defisiensi vitamin D menghambat penyerapan kalsium-fosfat. Akibatnya mineralisasi tulang terganggu, tulang anak menjadi lunak dan melengkung saat menopang berat badan.
•Kasus 4
Diagnosis: Gout arthritis (asam urat)
Data kunci: Nyeri sendi jempol, kemerahan, bengkak, kadar asam urat tinggi, kambuh setelah makanan tinggi purin.
Penyebab & mekanisme: Gangguan metabolisme purin menyebabkan kristal monosodium urat mengendap di sendi, memicu reaksi inflamasi akut.
•Kasus 5
Diagnosis: Tetanus
Data kunci: Luka paku berkarat, rahang kaku (trismus), kejang otot, riwayat infeksi.
Penyebab & mekanisme: Racun tetanospasmin dari Clostridium tetani menghambat neurotransmiter penghambat di saraf, menyebabkan kontraksi otot terus-menerus.

Bagian 3: Jawaban Analisis
1. Analisis Pencegahan
• Kasus 1 dan 3 menunjukkan bahwa kesehatan tulang tidak hanya ditentukan usia, tetapi akumulasi gaya hidup sejak muda. Kekurangan kalsium dan vitamin D mengurangi kepadatan tulang, sementara kurang aktivitas fisik menurunkan rangsangan mekanik yang dibutuhkan tulang untuk mempertahankan massa. Tulang adalah jaringan hidup yang beradaptasi terhadap beban; tanpa nutrisi dan aktivitas, proses resorpsi tulang lebih dominan daripada pembentukan. Akibatnya muncul osteoporosis pada lansia dan rakhitis pada anak.

2. Analisis Penanganan
Fraktur pada • Kasus 2 dikategorikan fraktur tertutup karena integritas kulit tidak rusak meskipun tulang patah. Ini penting secara klinis karena risiko infeksi lebih rendah dibanding fraktur terbuka, tetapi perdarahan internal tetap berbahaya.
Pertolongan yang tidak boleh dilakukan:
Meluruskan tulang secara paksa → dapat merusak pembuluh darah/saraf
Memijat area cedera → memperparah perdarahan jaringan
Menggerakkan anggota tubuh → memperbesar kerusakan tulang
Prinsip utama adalah imobilisasi untuk mencegah cedera lanjutan.

3. Sintesis
• Kasus 4 adalah gangguan metabolisme: tubuh gagal mengatur kadar asam urat sehingga kristal menumpuk di sendi. Dampaknya bersifat inflamasi lokal yang membatasi gerak sendi.
• Kasus 5 adalah gangguan akibat infeksi: bakteri menghasilkan toksin yang menyerang sistem saraf pusat. Dampaknya sistemik, menyebabkan kekakuan otot menyeluruh dan gangguan kontrol gerak.
Perbedaan mendasar:
Gangguan metabolisme → kerusakan kimiawi pada sendi
Infeksi → gangguan neuro-otot akibat toksin
Satu menyerang struktur sendi, yang lain mengacaukan mekanisme kontrol gerak.
 
Bagian 2: Tabel Analisis
•Kasus 2
Diagnosis: Fraktur tertutup tibia
Data kunci: Trauma benturan keras, nyeri hebat, edema, deformitas, garis patahan pada rontgen tanpa luka terbuka.
Penyebab & mekanisme: Gaya benturan melebihi elastisitas tulang sehingga tulang patah. Kulit tetap utuh → fraktur tertutup. Kerusakan jaringan terjadi secara internal, berisiko perdarahan dan pembengkakan.
•Kasus 3
Diagnosis: Rakhitis
Data kunci: Kaki berbentuk O, kurang paparan matahari, asupan kalsium rendah.
Penyebab & mekanisme: Defisiensi vitamin D menghambat penyerapan kalsium-fosfat. Akibatnya mineralisasi tulang terganggu, tulang anak menjadi lunak dan melengkung saat menopang berat badan.
•Kasus 4
Diagnosis: Gout arthritis (asam urat)
Data kunci: Nyeri sendi jempol, kemerahan, bengkak, kadar asam urat tinggi, kambuh setelah makanan tinggi purin.
Penyebab & mekanisme: Gangguan metabolisme purin menyebabkan kristal monosodium urat mengendap di sendi, memicu reaksi inflamasi akut.
•Kasus 5
Diagnosis: Tetanus
Data kunci: Luka paku berkarat, rahang kaku (trismus), kejang otot, riwayat infeksi.
Penyebab & mekanisme: Racun tetanospasmin dari Clostridium tetani menghambat neurotransmiter penghambat di saraf, menyebabkan kontraksi otot terus-menerus.

Bagian 3: Jawaban Analisis
1. Analisis Pencegahan
• Kasus 1 dan 3 menunjukkan bahwa kesehatan tulang tidak hanya ditentukan usia, tetapi akumulasi gaya hidup sejak muda. Kekurangan kalsium dan vitamin D mengurangi kepadatan tulang, sementara kurang aktivitas fisik menurunkan rangsangan mekanik yang dibutuhkan tulang untuk mempertahankan massa. Tulang adalah jaringan hidup yang beradaptasi terhadap beban; tanpa nutrisi dan aktivitas, proses resorpsi tulang lebih dominan daripada pembentukan. Akibatnya muncul osteoporosis pada lansia dan rakhitis pada anak.

2. Analisis Penanganan
Fraktur pada • Kasus 2 dikategorikan fraktur tertutup karena integritas kulit tidak rusak meskipun tulang patah. Ini penting secara klinis karena risiko infeksi lebih rendah dibanding fraktur terbuka, tetapi perdarahan internal tetap berbahaya.
Pertolongan yang tidak boleh dilakukan:
Meluruskan tulang secara paksa → dapat merusak pembuluh darah/saraf
Memijat area cedera → memperparah perdarahan jaringan
Menggerakkan anggota tubuh → memperbesar kerusakan tulang
Prinsip utama adalah imobilisasi untuk mencegah cedera lanjutan.

3. Sintesis
• Kasus 4 adalah gangguan metabolisme: tubuh gagal mengatur kadar asam urat sehingga kristal menumpuk di sendi. Dampaknya bersifat inflamasi lokal yang membatasi gerak sendi.
• Kasus 5 adalah gangguan akibat infeksi: bakteri menghasilkan toksin yang menyerang sistem saraf pusat. Dampaknya sistemik, menyebabkan kekakuan otot menyeluruh dan gangguan kontrol gerak.
Perbedaan mendasar:
Gangguan metabolisme → kerusakan kimiawi pada sendi
Infeksi → gangguan neuro-otot akibat toksin
Satu menyerang struktur sendi, yang lain mengacaukan mekanisme kontrol gerak.
 
Bagian 2: Tabel Analisis
•Kasus 2
Diagnosis: Fraktur tertutup tibia
Data kunci: Trauma benturan keras, nyeri hebat, edema, deformitas, garis patahan pada rontgen tanpa luka terbuka.
Penyebab & mekanisme: Gaya benturan melebihi elastisitas tulang sehingga tulang patah. Kulit tetap utuh → fraktur tertutup. Kerusakan jaringan terjadi secara internal, berisiko perdarahan dan pembengkakan.
•Kasus 3
Diagnosis: Rakhitis
Data kunci: Kaki berbentuk O, kurang paparan matahari, asupan kalsium rendah.
Penyebab & mekanisme: Defisiensi vitamin D menghambat penyerapan kalsium-fosfat. Akibatnya mineralisasi tulang terganggu, tulang anak menjadi lunak dan melengkung saat menopang berat badan.
•Kasus 4
Diagnosis: Gout arthritis (asam urat)
Data kunci: Nyeri sendi jempol, kemerahan, bengkak, kadar asam urat tinggi, kambuh setelah makanan tinggi purin.
Penyebab & mekanisme: Gangguan metabolisme purin menyebabkan kristal monosodium urat mengendap di sendi, memicu reaksi inflamasi akut.
•Kasus 5
Diagnosis: Tetanus
Data kunci: Luka paku berkarat, rahang kaku (trismus), kejang otot, riwayat infeksi.
Penyebab & mekanisme: Racun tetanospasmin dari Clostridium tetani menghambat neurotransmiter penghambat di saraf, menyebabkan kontraksi otot terus-menerus.

Bagian 3: Jawaban Analisis
1. Analisis Pencegahan
• Kasus 1 dan 3 menunjukkan bahwa kesehatan tulang tidak hanya ditentukan usia, tetapi akumulasi gaya hidup sejak muda. Kekurangan kalsium dan vitamin D mengurangi kepadatan tulang, sementara kurang aktivitas fisik menurunkan rangsangan mekanik yang dibutuhkan tulang untuk mempertahankan massa. Tulang adalah jaringan hidup yang beradaptasi terhadap beban; tanpa nutrisi dan aktivitas, proses resorpsi tulang lebih dominan daripada pembentukan. Akibatnya muncul osteoporosis pada lansia dan rakhitis pada anak.

2. Analisis Penanganan
Fraktur pada • Kasus 2 dikategorikan fraktur tertutup karena integritas kulit tidak rusak meskipun tulang patah. Ini penting secara klinis karena risiko infeksi lebih rendah dibanding fraktur terbuka, tetapi perdarahan internal tetap berbahaya.
Pertolongan yang tidak boleh dilakukan:
Meluruskan tulang secara paksa → dapat merusak pembuluh darah/saraf
Memijat area cedera → memperparah perdarahan jaringan
Menggerakkan anggota tubuh → memperbesar kerusakan tulang
Prinsip utama adalah imobilisasi untuk mencegah cedera lanjutan.

3. Sintesis
• Kasus 4 adalah gangguan metabolisme: tubuh gagal mengatur kadar asam urat sehingga kristal menumpuk di sendi. Dampaknya bersifat inflamasi lokal yang membatasi gerak sendi.
• Kasus 5 adalah gangguan akibat infeksi: bakteri menghasilkan toksin yang menyerang sistem saraf pusat. Dampaknya sistemik, menyebabkan kekakuan otot menyeluruh dan gangguan kontrol gerak.
Perbedaan mendasar:
Gangguan metabolisme → kerusakan kimiawi pada sendi
Infeksi → gangguan neuro-otot akibat toksin
Satu menyerang struktur sendi, yang lain mengacaukan mekanisme kontrol gerak.
 

Trending content

Forum statistik

Topik
94
Pesan
132
Anggota
247
Anggota terbaru
Ayuaj
Back
Top